Minggu, 11 Desember 2022

 BERTAHAN BERSAMA LUKA

Aku selalu memikirkan, bagaimana jika kita masih bersama sampai detik ini? Apa kisah yang akan kita lukis pada perjalanan kita berdua?

Dulu sungguh terasa sangat menyenangkan berbagi cerita dan hobi bersamamu

Kini aku tak lagi mampu mendengarkan ramalan zodiak yang dulu kita pernah dengarkan berdua

Tertawa bersama karena ramalan yang terasa nyata

Tapi aku lupa saat itu ramalan mu adalah berkenalan dengan seseorang

Dan kau meninggalkannya

Aku kira itu hanya sekedar ramalan semata

Ternyata itu peringatanmu padaku

Ternyata aku yang terlalu menutup mata dan telinga

Seakan semua akan baik-baik saja, hanya karena kamu terlalu penasaran padaku

Dan aku lupa kalau rasa penasaran itu bukan bagian dari rasa suka untuk bertahan

Dan kamu membisikkan padaku

“biarkan ku pergi untuk bahagia, bersamamu aku tak akan bahagia, bertemu denganmu adalah kesalahan”

Seakan aku sudah melakukan kesalahan yang besar

Aku tak tahu mengapa kau berubah seketika

Aku tak mengerti mengapa perubahan itu sungguh membuatku sakit

Memnag benar perpisahan ini adalah pilihan yang terbaik untuk kita

Aku yakin kini kamu pasti lebih bahagia

Kita bertemu dari orang asing dan berakhir asing kembali

Untuk apa masih bertahan?

Sedari awal sepertinya hanya ada 1 rasamu kepadaku

Rasa yang sedari awal bukan sesuatu yang seserius yang aku harapkan. Hanya sebatas kata-kata.

Kau hanya penasaran padaku

Dan setelah terjawab, kau pergi

Ya bukan salahmu, sedari awal bentengkulah yang terlalu lemah

Aku terlalu membuka diri padamu orang asing yang menumpang berteduh ditengah hujan dipada rumput

Kebetulan akulah bangunan yang membuatmu penasaran dan menumpang untuk berteduh

Bangunan itu cukup kokoh jika terlihat dari luar, sangat unik sehingga kamu ingin tahu tentang apa bangunan ini dibangun

Terjawab. Tak ada yang menarik lagi. Bangunan yang kokoh ini ternyata rapuh.

Kamu takut pondasinya roboh dan kamu akan tertimpa hingga terluka

Sehingga walau hujannya masih belum reda, kamu memcoba untuk keluar dan memilih basah, lalu pergi

Bangunan itu sungguh hanya terlihat kokoh

Seketika 1 pondasinya runtuh

Walau bangunannya masih tertopang batu, tetapi hanya karena angin, dia akan roboh

Itu adalah aku

Bangunan itu adalah aku

Yang kapanpun bisa roboh

Dan kini bangunan itu tak mengijinkan siapapun untuk berteduh

Bahkan jika ada yang menatap dari kejauhanpun

Bangunan itu berusaha membuat dirinya tampak menyeramkan

Sehingga bukan pillihan yang tepat untuk singgah

Bangunan itu hanya mencoba untuk membangun kembali pondasi yang sudah runtuh

Hanya karena dia tak ingin roboh

Tapi apakah dia akan sanggup bertahan?

 04 November 2022

Bebrapa saat sebelum dia meninggal, dia menulis ini. Karena dia tak tahu kapan waktunya berakhir…….

 

Hallo kehidupan…

Bagaimana jika dikehidupan ini ada sebuah atau beberapa tombol yang bisa kita gunakan demi keberlangsungan hidup?

Tombol restart, undo, dan rudo yang mana tombol ini punya batas waktu penggunaan. Akan seperti apa kehidupan manusia?

Bagaimana jika dalam kehidupan kita diberikan remidial oleh Tuhan jika kita salah dalam melakukan suatu hal atau gagal dalam ujian-Nya? Apakah kita bisa menikmati kehidupan yang lebih baik, yang lebih sempurna.

Kadang kita berpikir sesuatu tidak terlalu berguna, karena kita memilikinya. Tetapi ketika sesuatu itu menghilang dari kita, kita merasakan kalau kita membutuhkannya, mulai membandingkan dengan orang lain, lalu kita terpuruk.

Bagaimana sebenarnya kehidupan bisa berjalan hanya sekali saja? Aku sudah makan dan jika lapar aku akan makan lagi, tetapi waktunya sudah tidak sama. Mungkin kondisi dan situasi bisa dibuat sama, tetapi kenangan itu tidak akan pernah sama.

Kehidupan berjalan begitu cepat, walau kadang kita merasa stuck pada suatu keadaan yang membuat kita berpikir mengapa kehidupan begitu lambat dan hanya berpusat pada diri kita saja. Kesialan yang sillih berganti menyapa juga menambahkan beban pikiran. Banyak hal yang bisa dilakukan, tetapi kita terpuruk dan dibatisi oleh pembatas yang dibuat oleh pikiran kita sendiri. Semkain kita ingin melangkah maju, semakin kita tak bisa. Kaki seketika kaku dan nafas begitu berat.

Beberapa hal didunia ini seakan tampak begitu menggoda. Ada beberapa situasi yang membuat kita percaya kalau kita adalah orang yang paling beruntung, tetapi pada situasi kita terpuruk, seakan kita memilih untuk menyerah saja. Berpikir bahwa kita hidup hanya sebagai pelengkap dan tidak begitu berguna, hanya akan membuat kita terbelenggu pada sebuah garis lingkaran yang kita sendiri tak bisa menghapusnya lagi. Kesalahan demi kesalahan itu menjadikan kita manusia yang memandang rendah dirinya sendiri. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Kembali pada tombol undo dan rudo, jika memang itu ada, apa yang akan terjadi pada dunia ini? Bukankah sifat dasar manusia adalah egois? Manusia hanya menuntut kesempurnaan dan tak ingin terlalu kesusahan. Ada beberapa orang yang berkata kalau tidak mengapa kalau kita berada dalam kesulitan, karena roda itu berputar. Pertanyaan yang selama ini ada dalam pikiranku adalah: apakah benar kehidupanku berbentuk roda? Mengapa perputaranya begitu lambat?

Sungguh miris ketika melihat orang lain jauh berjalan di depan, dan kita sudah berusaha berlari tetapi masih tertinggal. Jika dilihat kembali, kita berada pada garis start yang sama, tetapi dia berjalan begitu cepat dan kita berlari begitu lambat. Dia berjalan pada jalanan yang mulus, setidaknya terlihat begitu dimataku, dan setelah kita lihat, jalur yang ada di depan kita adalah bebatuan. Dia berjalan dengan sepatu, dan kita berlari dengan telanjang kaki. Tetapi kita lupa, kita hanya melihat luarannya saja, kita tidak tahu sepatu yang dipakai orang itu untuk berjalan ternyata terlalu kecil, sehingga dia berjalan begitu cepat agar bisa melepas sepatunya sesegera mungkin. Kita hanya melihat jalannya mulus, tetapi kita lupa apa yang dia lakukan sebelumnya untuk memperoleh jalan yang mulus. Semua proses itu kita lupakan saat kita membandingkan diri kita dengan orang lain yang berada di depan kita.

Bukankah bulan begitu indah saat dipandang dari kejauhan? Padahal nyatakan, menurut para ahli, permukaan bulan itu tidaklah mulus. Sama bukan dengan kehidupan ini? Begitu mulus ketika kita melihat orang yang berada di depan kita, tetapi kita tidak perduli, bagian yang tidak mulus itu tidak terlihat, atau bahkan terlihat jelas. Kita hanya berpikir bagaimana dia bisa mendapatkan kehidupan yang indah sedangkan kita kesusahan?

Adal atau tidaknya kehidupan sungguh membuat kita kelelahan, bukan? Ada beberapa stigma dalam masyarakat yang menajdikan itu sebuah keharusan. Ada beberapa fenomena yang ditujukan untuk sebuah kejadian atau peristiwa atau golongan. Bunga yang indah identik dengan salah satu gender, wanita, dan ketika pria suka bunga maka dia akan terlihat feminim. Salahkan bila bungga indah itu menjadi favoritnya seorang pria? Lalu bagaimana dengan warna biru dan merah muda, mereka terpisah oleh gender. Bagaimana dengan hobi? Dan masih banyak lagi hal lain yang tidak bisa dilakukan oleh seseorang karena terbatas oleh gendernya.

Kehidupan begitu kompleks. Banyak aturan dan keharusan yang tak bisa dibantah. Sebenarnya bukan tak bisa dibantah, tetapi lebih kepada jika kita lakukan kita akan terlihat tidak normal. Ada beberapa orang yang sungguh tidak memperdulikan hal itu. Normal atau tidaknya diriku, hanya aku yang tahu. Pendapat orang tidak akan mempengaruhi aku.

Pendidikan sendiri pada jaman dahulu sangat tidak diperuntukkan untuk wanita. Itu adalah hal tabu jika wanita ingin sekolah. Jika kita lihat kembali para ahli dan penemu di dunia ini didominasi oleh kaum pria, bukan? Apakah wanita tidak bisa menemukan hal yang luar biasa? Aku curiga kalau sebenarnya ada hal yang sudah ditemukan oleh wanita, tetapi tidak diterima oleh pria. Dan ketika wanita yang menemukan hal luar biasa itu, itu menjadi hal yang tidak normal. Dan ketika prialah pahlawan dibalik penemuan itu, menjadi hal yang luar biasa.

Kita sungguh beruntung hidup dimasa yang dimana pendidikan untuk semua orang itu sama, tetapi kita masih dibatasi oleh yang namanya kesempatan. Banyak hal yang bisa dilakukan tetapi tidak memiliki kesempatan dan waktu yang pas. Akhirnya hanya akan menajdi sebuag wacana. Banyak hal yang sebenarnya menjadi luar biasa jika kita bisa melakukannya tetapi tidak normal karena kita adalah pria atau wanita.

Banyak pula hal yang tidak bisa dijelaskan oleh logika ketika kita beranggapan neraka dan surga itu sungguh ada. Aku punya pemikiran, bagaimana jika konsep surga neraka itu ternyata terbalik? Hal baik masuknya neraka dan hal buruk masuknya surga? Bagaimana jika A dan B itu ternyata bagian dari angka, lalu 1 dan 2 adalah huruf? Tidak mungkin, kan? Ya tidak mungkin itu terjadi, karena sejak dulu 1 dan 2 adakah angka. Orang yang tidak normallah yang menyebut kalau A dan B itu angka. Begitu pula dengan surga dan neraka. Ketika seseorang berkata kalau dia lebih mengejar masuk neraka, akan dipandang tidak wajar oleh orang  yang mengejar surga. Mengapa menginginkan sesuatu yang buruk jika kita bisa memikirkan hal yang baik? Bukankah kita hidup karena kebaikan dari Tuhan? Lalu apa yang kita khawatirkan?

Berangkat dari pemikiran inilah, aku menulis pokok pemikiran ini. Banyak hal yang aku pikirkan tetapi tak bisa aku sampaikan. Banyak hal yang aku pertanyakan tetapi tak bisa kutemukan jawaban. Bagaimana bisa aku, yang bahkan hidup dan bernafas, bisa mempertanyakan keberadaan Tuhan yang sudah memberikan aku kehidupan? Bagaimana bisa aku menyalahkan Tuhanku ketika aku mendapatkan kemalangan dan berterik “Tuhan itu baik” ketika aku mendapatkan apa yang aku inginkan? Manusia adalah mahluk paling lemah. Manusia adalah seuatu hal yang paling mudah berubah, tidak konstan, dan selalu ingin berubah ubah.

Kehidupan yang sekarang ada terasa begitu hampa dan tidak ada artinya ketika kita sudah berada pada titik jenuh. Kita ingin menghilang barang sehari, tak ada yang tahu siapa kita dan tak ada yang sadar kita selama ini ada. Kita hanya menghilang saja, begitu saja. Apakah semuanya akan menjadi lenih baik? Belum tentu, karena sesuatu yang sudah pasti terjadipun tidak akan bisa dipastikan kalau itu akan seusai pada rencana awal. Kehidupan ini apakah bisa diulang kembali tanpa meninggalkan jejak dikehidupan lama? Bagaimana jika kita memiliki kesempatan untuk mengulang atau menukar kehidupan kita dengan kehidupan yang kita inginkan, tetapi konsekuensinya tidak ada jalan untuk kembali. Sama sekali tidak ada. Apakah kita akan tetap melakukannya?

Bayangkan suatu kejadian dimana kehidupan ini adalah sebuah puzzle. Kita sudah setengah jalan, dan kita baru sadar kalau ada 1 bagian yang salah, dan jika kita perbaiki maka akan banyak bagian lain yang harus ikut kita perbaiki, apakah kita akan memilih untuk tetap memperbaikinya? Atau mencoba untuk melanjutkan dan masa bodoh dengan bagian yang salah itu? Atau bahkan kita akan bongkar seluruh bagian dan mengulang dari awal? Berapa banyak waktu yang akan kita habiskan? Semua jawaban dari pertanyaan ini adalah sebuah keputusan yang hanya  bisa kita ambil 1 kali percobaan, lalu apa yang harus kita lalukan?

Pada suatu masa dalam kehidupan, sekali lagi Tuhan sangat baik, lalu Ia membuatkan persimpangan jalan untuk kita. Tertulis di palang persimpangan, kalau yang kiri kita melanjutkan perjuangan dan yang kanan kita akan terlahir kembali, anggap saja kitta terlahir menjadi sesuatu yang baru, virgin, tak ada celah, benar-benar seseorang yang baru. Dan ini hanya ada 1 kali kesempatan. Kita kita sudah mengambil jalur kanan, di kehidupan itu tidak akan kita temukan lagu persimpangan ini. Lalu apa yang akan terjadi?

Wah persimpangan jalan ini memberikan aku pemikiran kalau kehidupan lama ku sudah memilih untuk mengambil jalur kanan, dan aku marah. Ya aku marah karena semua itu sia-sia. Aku kembali pada kebimbangan. Aku kembali kepada kebuntuan dan berharap jalan kanan itu benaran ada dan kesempatan itu akan kuambil tanpa berpikir dua kali. Lalu kehidupan baruku akan memikirkan hal yang sama dengan yang aku pikirkan sekrang. Wah ini menajdi lingkaran setan yang tidak ada akhirnya. Tidak bisa melanjutkan dan tidak bisa kembali. Stuck.

Sabtu, 17 April 2021

Season : 01

 

Season : 01

Aku dan kesendirianku

Part 1

Menghilang….

Aku butuh pelarian, bukan karena aku tidak bertanggungjawab, bukan. Tapi karena aku memang tidak sanggup dengan semua kenyataan. Ya aku tau ini adalah salah satu bentuk ketidak bertanggungjawaban dari diriku yang suka kabur dan lari dari kenyataan.

Sering kali pula aku hanya ingin menyendiri tanpa ada gangguan dari siapapun. Hanya ingin hidup sendiri saja, tidak melakukan apapun. Hanya diam dan diam saja. Pernahkan kalian pun hanya ingin menghilang sejenak. Pernahkan kalian hanya tidak ingin memikirkan apapun. Pernahkan.

Ya aku ingin kabur saja, ingin menghilang sejenak. Tak ingin terlihat dan terserahlah. Aku tak mau melakukan apapun. Tak ingin berbuat apapun. Tak ingin melakukan apapun.

Mood ku hancur sejak pagi. Sejak membuka mata aku sudah tak ingin melakukan apapun. Malas aja rasanya. Ditambahkan dengan beban pikiran dan berbagai macam masalah lainnya. Hidup ku terasa tak tertata, bukan hancur, hanya tak punya arah tujuan.

Pernahkan kalian merasa kalau kalian terlambat untuk memulai, tau-tau yang lain sudah jauh didepan. Tau kan rasanya tertinggal padahal pernah berjalan Bersama. Pernahkan kalian merasa dulunya banyak orang disekitar kalian yang bisa diajak bercerita tentang apapun, tetap sekarang terasa sunyi.

Maaf. Maafkan aku terlalu melo hari ini. Aku hanya ingin mencurahkan isi hatiku hari ini. Walaupun semuanya sama saja. Tak ada yang berubah. Semuanya sama.

Menghilang adalah jalan utama dan pertama. Menghilang. Aku ingin menghilang.

 

Part 2

Sedang tak Baik-baik saja….

Hatiku sedang gundah, tetapi aku tak tau kenapa. Semuanya terasa tak sesuai rencana. Aku kacau. Tapi aku baik-baik saja.

Ku coba memutup mataku, bukan untuk tidur, tapi hanya untuk membutakan sementara. Aku ingin menutup kedua telingaku juga. Supaya sunyi. Tapi tanganku sedang tak ingin bekerja. Menurutku mengangkat tangan setinggi telinga sangat merepotkan. Jadi kubiarkan saja kebisingan mengusik pendengaranku. Toh aku juga tak perduli.

Tersenyum. Kok aku tersenyum. Padahal tidak ada yang menjadi alas an untukku tersenyum. Kacau sekali perasaanku hari ini. Aku tetap merasa baik-baik saja kok. Tidak terjadi apapun. Hanya Lelah saja.

Senja kapan kamu tiba? Aku sudah bosan dengan teriknya matahari hari ini. Aku ingin segera bertemu dengan bulan. Tapi arunika baru saja dating. Sinarnya sangat menyilaukan mata. Hmmmm dersik angin-pun mengangguku. Sekali lagi, aku ingin menutup telinga.

Kedua tanganku sudah berada ditempat semestinya. Ditelingaku. Untuk apa? Toh aku masih mendengar perkataan orang-orang tentang keburukan yang aku lakukan dan yang tidak aku lakukan. Aku tak perduli. Setidaknya mencoba untuk tidak perduli saja. Tapi aku punya hati, dan aku masih belum bisa mengontrolnya…..

 

End

ZonaTidak Nyaman….

Makin hari makin merasa tidak nyaman. Makin hari zona itu memudar. Makin hari aku dipaksa keluar dari lingkaran. Aku ingin tetap di zona itu, tapi zona nya yang tidak ingin aku disana. Aku dipaksa keluar, bahkan saat aku tak ingin keluar, zona nya yang memudar.

Lucu. Bagaimana ini bisa terjadi? Padahal aku sangat mengenal zona ini. Entahlah. Mungkin karena terlalu nyaman sehingga aku tak tau apapun.

Kini aku sudah dipaksa untuk memulai lagi. Mulai ini aku akan memasuki lemabaran baru, season baru……

Selasa, 07 Januari 2020


Prolog

Apakah kematian adalah sutau yang nyata adanya?

Kemana perginya kita setelah mati? Dan apakah ada rasa sakit setelah kita mengalami kematian?

Banyak orang yang beranggapan, saat hidup-pun kita bisa merasakan kematian. Mati jiwa. Apakah kita semua akan bertemu lagi setelah kematian? Atau kematian itu ibarat sebuah game yang walaupun kamu sudah mencapai level atas, jika game over kamu akan kembali ke level awal?

Kematian itu adalah misteri, setidaknya untukku saat ini.
Aku takut saat memikirkan tentang kematian, tetapi kadang aku berpikir ingin mati saja supaya mengakhiri sengala kekhawatiranku akan dunia ini. Tapi apakah benar setelah mati, kita tidak memiliki masalah hidup lagi? Bahkan ada yang bilang masalah hidup bisa dibawa mati. Aku takut untuk berpikir tentang itu, tapi aku selalu memikirkan itu sebagai jalan terakhir untuk keluar dari masalahku.

...

Aku sangat gundah saat ini. Teramat gundah mikirkan jadi apa aku esok? Tapi suatu waktu aku bahagia dan tidak memikirkan hari esok. Yang aku tau, hari ini akan berakhir, jadi biarlah berakhir. Senja yang akan menutup lembaran kotor hari ini, dan mentari datang membawa lembaraan baru. Tapi aku benci saat lembaran baru hari ini memiliki bekas jiplakan dari lembaran kemarin. Aku benci untuk mengingat hari kemarin.

Satu hal lagi yang aku benci. Aku benci saat bertemu dengan orang yang berbicara tentang hari kemarin. Aku sangat tidak suka dengan hari kemarin, apalagi mengingat masalah kemarin yang membuat aku menyesal. Tapi aku bodoh. Sudah tau membenci semua itu, tetap saja kadang aku berpikir tentang hari kemarin, “coba saja aku tidak melakukan itu, pasti tidak akan berakhir seperti ini” dasar aku orang bodoh. Itu yang membuat kau benci dengan diri sendiri.
...
Pernah tidak kalian berpikir kalau kalian itu orang baik?

Munafik jika tidak pernah, sadar atau tidak, saat kalian tersenyum setelah melakukan sesuatu hal yang baik bagi kalian, kalian sudah menganggap diri kalian baik. Aku juga benci hal itu. Maaf banyak hal yang aku benci di dunia ini. Bahkan diriku sendiri.

Sepuluh dari sebelas hal di dunia ini berisi tentang kebencianku akan dunia. Bahkan aku ga yakin kalau satu-nya itu adalah hal yang aku suka 100%.
...
Kembali tentang kematian tersebut. Maaf aku tidak ingin cepat-cepat mati, karena aku gak yakin akan bahagia setelah mati.

Dulu saat aku kecil, aku berpikir orang yang sudah mati bisa melihat kita seperti kita menonton televisi. Tapi apakah bisa menonton seluruh manusia yang hidup? Tidak cukup waktu bukan? Tapi apakah dalam kematian, waktu masih berlaku? Lalu setelah mati kita kemana lagi? Hidup kembali? Rumit.

...

Aku tak sabar ingin segera dewasa. Itu adalah pikiran saat aku kanak-kanak. Aku berpikir menjadi dewasa berarti aku bisa menentukan pilihanku sendiri. Tapi sekarang aku malah takut dan terkesan tidak yakin dengan pikiran dan keputusan yang aku ambil. Apakah aku sudah dewasa? Atau jangan-jangan umurku saja yang semakin tua. Entahlah. Kalian yang kebetulan membaca ini jangan pernah menganggap ini semua fakta yang bisa kalian gunakan atau pakai sebagai acuan. Karena kembali lagi aku tak yakin kalau aku bisa memikirkan semua ini. Bahkan saat menulis atau berpikir tentang ini, ada suara dalam kepala ku yang berkata lirih, “siapa yang sekarang yang mempengaruhi pikiran ku?”
...


Kamis, 28 April 2016

Tanyakan

Ada saatnya kamu marah, benci, ilfeel, bahkan muak dengan semuanya. Rasanya kamu ingin pergi menjauh dan melupakan semuanya.
Ada saatnya kamu merasa tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menyaksikan semuanya terjadi.
Ada saatnya kamu ingin berbalik, berlari dan berteriak sekencang mungkin hingga semuanya terasa berbeda.
Kamu tak bisa menjelaskan apa yang terjadi, tapi kamu tahu dengan pasti itu.
Kamu selalu diperdaya dan kamu tak bisa melawan, hanya diam dan terus diam.
Tak salah, kamu tak salah. Hanya saja mereka tak tahu bahwa kamu lelah.
Kamu pasti memiliki perasaan yang tak dapat dijelaskan.
Kamu pasti marah pada diri sendiri saat kamu ingin berhenti tapi hati berkata lanjutkan.
Saat-saat seperti ini, kamu hanya dapat pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan.
Kamu memang tak bisa melakukan yang terbaik, tapi setidaknya kami sudah mencoba.
Jangan pernah salahkan diri sendiri, dan coba perbaiki satu persatu, kamu pasti bisa melakukannya.
Tersenyum dan selalu tersenyum, pasti kamu bisa.
Entah itu gagal, entah kamu menangis ataupun tertawa, yakinlah pada dirimu sendiri bahwa kamu bisa, bahwa kamu mampu dan kamu bisa tanpa orang lain. Yakinkan dirimu bahwa kamu harus menjadi yang terbaik dari dirimu sebelumnya.

Minggu, 28 Februari 2016

Mengulas

Hari ini, berbagai kegiatan telah dilalui. Kewajiban telah dilaksanakan sesuai dengan tuntutan. Kini saatnya meminta hak, menjalankan semua ya. Berpikir tanpa harus dilarang. Entah semua akan berakhir seperti apa, kita hanya tinggal menunggunya saja.
Dalam beberapa tindakan, pertanggungjawaban adalah hal yang mutlak harus dilakukan. Entah kamu bisa ataupun tidak bisa. Dalam beberapa hal, kamulah yang menjadi pemimpin dalam Permainanmu sendiri, entah sebagai pemain maupun sebagai wasit. Dalam pertandingan sepak bola, gol merupakan sebuah tujuan, dan itu seperti hidup. Kamu hanya perlu membawa bola menuju gawang lawan, tetapi kamu harus ingat bahwa gawang itu tetap ada penjaganya, seperti halnya gawang mu, kalau kamu lengah, maka kamu akan kalah.
Terkadang kita merasakan sesuatu yang membuat kita lengah, sebagai contoh kesendirian dan kesepian. Kita akan masuk ke dalam sebuah dimensi, di mana kita tak tahu bagaimana harus bertindak, dan tahu-tahu kita sudah jauh melangkah tanpa tahu arah. Yang harus kita lakukan adalah melupakan, melupakan apa yang menjadi masalah kita, walaupun terkadang itu sulit. 
Ingat, bola yang sudah masuk ke dalam gawang mu tidak bisa kamu batalkan, yang perlu kamu lalukan adalah menyamakan kedudukan. 
Semangat!😉😉