04
November 2022
Bebrapa saat
sebelum dia meninggal, dia menulis ini. Karena dia tak tahu kapan waktunya
berakhir…….
Hallo
kehidupan…
Bagaimana
jika dikehidupan ini ada sebuah atau beberapa tombol yang bisa kita gunakan
demi keberlangsungan hidup?
Tombol
restart, undo, dan rudo yang mana tombol ini punya batas waktu penggunaan. Akan
seperti apa kehidupan manusia?
Bagaimana
jika dalam kehidupan kita diberikan remidial oleh Tuhan jika kita salah dalam
melakukan suatu hal atau gagal dalam ujian-Nya? Apakah kita bisa menikmati
kehidupan yang lebih baik, yang lebih sempurna.
Kadang kita
berpikir sesuatu tidak terlalu berguna, karena kita memilikinya. Tetapi ketika
sesuatu itu menghilang dari kita, kita merasakan kalau kita membutuhkannya,
mulai membandingkan dengan orang lain, lalu kita terpuruk.
Bagaimana
sebenarnya kehidupan bisa berjalan hanya sekali saja? Aku sudah makan dan jika
lapar aku akan makan lagi, tetapi waktunya sudah tidak sama. Mungkin kondisi
dan situasi bisa dibuat sama, tetapi kenangan itu tidak akan pernah sama.
Kehidupan
berjalan begitu cepat, walau kadang kita merasa stuck pada suatu keadaan yang
membuat kita berpikir mengapa kehidupan begitu lambat dan hanya berpusat pada
diri kita saja. Kesialan yang sillih berganti menyapa juga menambahkan beban
pikiran. Banyak hal yang bisa dilakukan, tetapi kita terpuruk dan dibatisi oleh
pembatas yang dibuat oleh pikiran kita sendiri. Semkain kita ingin melangkah
maju, semakin kita tak bisa. Kaki seketika kaku dan nafas begitu berat.
Beberapa hal
didunia ini seakan tampak begitu menggoda. Ada beberapa situasi yang membuat
kita percaya kalau kita adalah orang yang paling beruntung, tetapi pada situasi
kita terpuruk, seakan kita memilih untuk menyerah saja. Berpikir bahwa kita
hidup hanya sebagai pelengkap dan tidak begitu berguna, hanya akan membuat kita
terbelenggu pada sebuah garis lingkaran yang kita sendiri tak bisa menghapusnya
lagi. Kesalahan demi kesalahan itu menjadikan kita manusia yang memandang
rendah dirinya sendiri. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Kembali pada
tombol undo dan rudo, jika memang itu ada, apa yang akan terjadi pada dunia
ini? Bukankah sifat dasar manusia adalah egois? Manusia hanya menuntut
kesempurnaan dan tak ingin terlalu kesusahan. Ada beberapa orang yang berkata
kalau tidak mengapa kalau kita berada dalam kesulitan, karena roda itu
berputar. Pertanyaan yang selama ini ada dalam pikiranku adalah: apakah
benar kehidupanku berbentuk roda? Mengapa perputaranya begitu lambat?
Sungguh miris
ketika melihat orang lain jauh berjalan di depan, dan kita sudah berusaha
berlari tetapi masih tertinggal. Jika dilihat kembali, kita berada pada garis
start yang sama, tetapi dia berjalan begitu cepat dan kita berlari begitu
lambat. Dia berjalan pada jalanan yang mulus, setidaknya terlihat begitu
dimataku, dan setelah kita lihat, jalur yang ada di depan kita adalah bebatuan.
Dia berjalan dengan sepatu, dan kita berlari dengan telanjang kaki. Tetapi kita
lupa, kita hanya melihat luarannya saja, kita tidak tahu sepatu yang dipakai
orang itu untuk berjalan ternyata terlalu kecil, sehingga dia berjalan begitu
cepat agar bisa melepas sepatunya sesegera mungkin. Kita hanya melihat jalannya
mulus, tetapi kita lupa apa yang dia lakukan sebelumnya untuk memperoleh jalan
yang mulus. Semua proses itu kita lupakan saat kita membandingkan diri kita
dengan orang lain yang berada di depan kita.
Bukankah
bulan begitu indah saat dipandang dari kejauhan? Padahal nyatakan, menurut para
ahli, permukaan bulan itu tidaklah mulus. Sama bukan dengan kehidupan ini?
Begitu mulus ketika kita melihat orang yang berada di depan kita, tetapi kita
tidak perduli, bagian yang tidak mulus itu tidak terlihat, atau bahkan terlihat
jelas. Kita hanya berpikir bagaimana dia bisa mendapatkan kehidupan yang indah
sedangkan kita kesusahan?
Adal atau
tidaknya kehidupan sungguh membuat kita kelelahan, bukan? Ada beberapa stigma
dalam masyarakat yang menajdikan itu sebuah keharusan. Ada beberapa fenomena
yang ditujukan untuk sebuah kejadian atau peristiwa atau golongan. Bunga yang
indah identik dengan salah satu gender, wanita, dan ketika pria suka bunga maka
dia akan terlihat feminim. Salahkan bila bungga indah itu menjadi favoritnya
seorang pria? Lalu bagaimana dengan warna biru dan merah muda, mereka terpisah
oleh gender. Bagaimana dengan hobi? Dan masih banyak lagi hal lain yang tidak
bisa dilakukan oleh seseorang karena terbatas oleh gendernya.
Kehidupan
begitu kompleks. Banyak aturan dan keharusan yang tak bisa dibantah. Sebenarnya
bukan tak bisa dibantah, tetapi lebih kepada jika kita lakukan kita akan
terlihat tidak normal. Ada beberapa orang yang sungguh tidak memperdulikan hal
itu. Normal atau tidaknya diriku, hanya aku yang tahu. Pendapat orang tidak
akan mempengaruhi aku.
Pendidikan
sendiri pada jaman dahulu sangat tidak diperuntukkan untuk wanita. Itu adalah
hal tabu jika wanita ingin sekolah. Jika kita lihat kembali para ahli dan
penemu di dunia ini didominasi oleh kaum pria, bukan? Apakah wanita tidak bisa
menemukan hal yang luar biasa? Aku curiga kalau sebenarnya ada hal yang sudah
ditemukan oleh wanita, tetapi tidak diterima oleh pria. Dan ketika wanita yang
menemukan hal luar biasa itu, itu menjadi hal yang tidak normal. Dan ketika
prialah pahlawan dibalik penemuan itu, menjadi hal yang luar biasa.
Kita sungguh
beruntung hidup dimasa yang dimana pendidikan untuk semua orang itu sama,
tetapi kita masih dibatasi oleh yang namanya kesempatan. Banyak hal yang bisa
dilakukan tetapi tidak memiliki kesempatan dan waktu yang pas. Akhirnya hanya
akan menajdi sebuag wacana. Banyak hal yang sebenarnya menjadi luar biasa jika
kita bisa melakukannya tetapi tidak normal karena kita adalah pria atau wanita.
Banyak pula
hal yang tidak bisa dijelaskan oleh logika ketika kita beranggapan neraka dan
surga itu sungguh ada. Aku punya pemikiran, bagaimana jika konsep surga neraka
itu ternyata terbalik? Hal baik masuknya neraka dan hal buruk masuknya surga?
Bagaimana jika A dan B itu ternyata bagian dari angka, lalu 1 dan 2 adalah
huruf? Tidak mungkin, kan? Ya tidak mungkin itu terjadi, karena sejak dulu 1
dan 2 adakah angka. Orang yang tidak normallah yang menyebut kalau A dan B itu
angka. Begitu pula dengan surga dan neraka. Ketika seseorang berkata kalau dia
lebih mengejar masuk neraka, akan dipandang tidak wajar oleh orang yang mengejar surga. Mengapa menginginkan
sesuatu yang buruk jika kita bisa memikirkan hal yang baik? Bukankah kita hidup
karena kebaikan dari Tuhan? Lalu apa yang kita khawatirkan?
Berangkat
dari pemikiran inilah, aku menulis pokok pemikiran ini. Banyak hal yang aku
pikirkan tetapi tak bisa aku sampaikan. Banyak hal yang aku pertanyakan tetapi
tak bisa kutemukan jawaban. Bagaimana bisa aku, yang bahkan hidup dan bernafas,
bisa mempertanyakan keberadaan Tuhan yang sudah memberikan aku kehidupan?
Bagaimana bisa aku menyalahkan Tuhanku ketika aku mendapatkan kemalangan dan
berterik “Tuhan itu baik” ketika aku mendapatkan apa yang aku inginkan? Manusia
adalah mahluk paling lemah. Manusia adalah seuatu hal yang paling mudah
berubah, tidak konstan, dan selalu ingin berubah ubah.
Kehidupan
yang sekarang ada terasa begitu hampa dan tidak ada artinya ketika kita sudah
berada pada titik jenuh. Kita ingin menghilang barang sehari, tak ada yang tahu
siapa kita dan tak ada yang sadar kita selama ini ada. Kita hanya menghilang
saja, begitu saja. Apakah semuanya akan menjadi lenih baik? Belum tentu, karena
sesuatu yang sudah pasti terjadipun tidak akan bisa dipastikan kalau itu akan
seusai pada rencana awal. Kehidupan ini apakah bisa diulang kembali tanpa
meninggalkan jejak dikehidupan lama? Bagaimana jika kita memiliki kesempatan
untuk mengulang atau menukar kehidupan kita dengan kehidupan yang kita
inginkan, tetapi konsekuensinya tidak ada jalan untuk kembali. Sama sekali
tidak ada. Apakah kita akan tetap melakukannya?
Bayangkan
suatu kejadian dimana kehidupan ini adalah sebuah puzzle. Kita sudah setengah
jalan, dan kita baru sadar kalau ada 1 bagian yang salah, dan jika kita
perbaiki maka akan banyak bagian lain yang harus ikut kita perbaiki, apakah
kita akan memilih untuk tetap memperbaikinya? Atau mencoba untuk melanjutkan
dan masa bodoh dengan bagian yang salah itu? Atau bahkan kita akan bongkar
seluruh bagian dan mengulang dari awal? Berapa banyak waktu yang akan kita
habiskan? Semua jawaban dari pertanyaan ini adalah sebuah keputusan yang
hanya bisa kita ambil 1 kali percobaan,
lalu apa yang harus kita lalukan?
Pada suatu
masa dalam kehidupan, sekali lagi Tuhan sangat baik, lalu Ia membuatkan persimpangan
jalan untuk kita. Tertulis di palang persimpangan, kalau yang kiri kita
melanjutkan perjuangan dan yang kanan kita akan terlahir kembali, anggap saja
kitta terlahir menjadi sesuatu yang baru, virgin, tak ada celah, benar-benar
seseorang yang baru. Dan ini hanya ada 1 kali kesempatan. Kita kita sudah
mengambil jalur kanan, di kehidupan itu tidak akan kita temukan lagu
persimpangan ini. Lalu apa yang akan terjadi?
Wah
persimpangan jalan ini memberikan aku pemikiran kalau kehidupan lama ku sudah
memilih untuk mengambil jalur kanan, dan aku marah. Ya aku marah karena semua
itu sia-sia. Aku kembali pada kebimbangan. Aku kembali kepada kebuntuan dan
berharap jalan kanan itu benaran ada dan kesempatan itu akan kuambil tanpa
berpikir dua kali. Lalu kehidupan baruku akan memikirkan hal yang sama dengan
yang aku pikirkan sekrang. Wah ini menajdi lingkaran setan yang tidak ada
akhirnya. Tidak bisa melanjutkan dan tidak bisa kembali. Stuck.