Minggu, 11 Desember 2022

 04 November 2022

Bebrapa saat sebelum dia meninggal, dia menulis ini. Karena dia tak tahu kapan waktunya berakhir…….

 

Hallo kehidupan…

Bagaimana jika dikehidupan ini ada sebuah atau beberapa tombol yang bisa kita gunakan demi keberlangsungan hidup?

Tombol restart, undo, dan rudo yang mana tombol ini punya batas waktu penggunaan. Akan seperti apa kehidupan manusia?

Bagaimana jika dalam kehidupan kita diberikan remidial oleh Tuhan jika kita salah dalam melakukan suatu hal atau gagal dalam ujian-Nya? Apakah kita bisa menikmati kehidupan yang lebih baik, yang lebih sempurna.

Kadang kita berpikir sesuatu tidak terlalu berguna, karena kita memilikinya. Tetapi ketika sesuatu itu menghilang dari kita, kita merasakan kalau kita membutuhkannya, mulai membandingkan dengan orang lain, lalu kita terpuruk.

Bagaimana sebenarnya kehidupan bisa berjalan hanya sekali saja? Aku sudah makan dan jika lapar aku akan makan lagi, tetapi waktunya sudah tidak sama. Mungkin kondisi dan situasi bisa dibuat sama, tetapi kenangan itu tidak akan pernah sama.

Kehidupan berjalan begitu cepat, walau kadang kita merasa stuck pada suatu keadaan yang membuat kita berpikir mengapa kehidupan begitu lambat dan hanya berpusat pada diri kita saja. Kesialan yang sillih berganti menyapa juga menambahkan beban pikiran. Banyak hal yang bisa dilakukan, tetapi kita terpuruk dan dibatisi oleh pembatas yang dibuat oleh pikiran kita sendiri. Semkain kita ingin melangkah maju, semakin kita tak bisa. Kaki seketika kaku dan nafas begitu berat.

Beberapa hal didunia ini seakan tampak begitu menggoda. Ada beberapa situasi yang membuat kita percaya kalau kita adalah orang yang paling beruntung, tetapi pada situasi kita terpuruk, seakan kita memilih untuk menyerah saja. Berpikir bahwa kita hidup hanya sebagai pelengkap dan tidak begitu berguna, hanya akan membuat kita terbelenggu pada sebuah garis lingkaran yang kita sendiri tak bisa menghapusnya lagi. Kesalahan demi kesalahan itu menjadikan kita manusia yang memandang rendah dirinya sendiri. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Kembali pada tombol undo dan rudo, jika memang itu ada, apa yang akan terjadi pada dunia ini? Bukankah sifat dasar manusia adalah egois? Manusia hanya menuntut kesempurnaan dan tak ingin terlalu kesusahan. Ada beberapa orang yang berkata kalau tidak mengapa kalau kita berada dalam kesulitan, karena roda itu berputar. Pertanyaan yang selama ini ada dalam pikiranku adalah: apakah benar kehidupanku berbentuk roda? Mengapa perputaranya begitu lambat?

Sungguh miris ketika melihat orang lain jauh berjalan di depan, dan kita sudah berusaha berlari tetapi masih tertinggal. Jika dilihat kembali, kita berada pada garis start yang sama, tetapi dia berjalan begitu cepat dan kita berlari begitu lambat. Dia berjalan pada jalanan yang mulus, setidaknya terlihat begitu dimataku, dan setelah kita lihat, jalur yang ada di depan kita adalah bebatuan. Dia berjalan dengan sepatu, dan kita berlari dengan telanjang kaki. Tetapi kita lupa, kita hanya melihat luarannya saja, kita tidak tahu sepatu yang dipakai orang itu untuk berjalan ternyata terlalu kecil, sehingga dia berjalan begitu cepat agar bisa melepas sepatunya sesegera mungkin. Kita hanya melihat jalannya mulus, tetapi kita lupa apa yang dia lakukan sebelumnya untuk memperoleh jalan yang mulus. Semua proses itu kita lupakan saat kita membandingkan diri kita dengan orang lain yang berada di depan kita.

Bukankah bulan begitu indah saat dipandang dari kejauhan? Padahal nyatakan, menurut para ahli, permukaan bulan itu tidaklah mulus. Sama bukan dengan kehidupan ini? Begitu mulus ketika kita melihat orang yang berada di depan kita, tetapi kita tidak perduli, bagian yang tidak mulus itu tidak terlihat, atau bahkan terlihat jelas. Kita hanya berpikir bagaimana dia bisa mendapatkan kehidupan yang indah sedangkan kita kesusahan?

Adal atau tidaknya kehidupan sungguh membuat kita kelelahan, bukan? Ada beberapa stigma dalam masyarakat yang menajdikan itu sebuah keharusan. Ada beberapa fenomena yang ditujukan untuk sebuah kejadian atau peristiwa atau golongan. Bunga yang indah identik dengan salah satu gender, wanita, dan ketika pria suka bunga maka dia akan terlihat feminim. Salahkan bila bungga indah itu menjadi favoritnya seorang pria? Lalu bagaimana dengan warna biru dan merah muda, mereka terpisah oleh gender. Bagaimana dengan hobi? Dan masih banyak lagi hal lain yang tidak bisa dilakukan oleh seseorang karena terbatas oleh gendernya.

Kehidupan begitu kompleks. Banyak aturan dan keharusan yang tak bisa dibantah. Sebenarnya bukan tak bisa dibantah, tetapi lebih kepada jika kita lakukan kita akan terlihat tidak normal. Ada beberapa orang yang sungguh tidak memperdulikan hal itu. Normal atau tidaknya diriku, hanya aku yang tahu. Pendapat orang tidak akan mempengaruhi aku.

Pendidikan sendiri pada jaman dahulu sangat tidak diperuntukkan untuk wanita. Itu adalah hal tabu jika wanita ingin sekolah. Jika kita lihat kembali para ahli dan penemu di dunia ini didominasi oleh kaum pria, bukan? Apakah wanita tidak bisa menemukan hal yang luar biasa? Aku curiga kalau sebenarnya ada hal yang sudah ditemukan oleh wanita, tetapi tidak diterima oleh pria. Dan ketika wanita yang menemukan hal luar biasa itu, itu menjadi hal yang tidak normal. Dan ketika prialah pahlawan dibalik penemuan itu, menjadi hal yang luar biasa.

Kita sungguh beruntung hidup dimasa yang dimana pendidikan untuk semua orang itu sama, tetapi kita masih dibatasi oleh yang namanya kesempatan. Banyak hal yang bisa dilakukan tetapi tidak memiliki kesempatan dan waktu yang pas. Akhirnya hanya akan menajdi sebuag wacana. Banyak hal yang sebenarnya menjadi luar biasa jika kita bisa melakukannya tetapi tidak normal karena kita adalah pria atau wanita.

Banyak pula hal yang tidak bisa dijelaskan oleh logika ketika kita beranggapan neraka dan surga itu sungguh ada. Aku punya pemikiran, bagaimana jika konsep surga neraka itu ternyata terbalik? Hal baik masuknya neraka dan hal buruk masuknya surga? Bagaimana jika A dan B itu ternyata bagian dari angka, lalu 1 dan 2 adalah huruf? Tidak mungkin, kan? Ya tidak mungkin itu terjadi, karena sejak dulu 1 dan 2 adakah angka. Orang yang tidak normallah yang menyebut kalau A dan B itu angka. Begitu pula dengan surga dan neraka. Ketika seseorang berkata kalau dia lebih mengejar masuk neraka, akan dipandang tidak wajar oleh orang  yang mengejar surga. Mengapa menginginkan sesuatu yang buruk jika kita bisa memikirkan hal yang baik? Bukankah kita hidup karena kebaikan dari Tuhan? Lalu apa yang kita khawatirkan?

Berangkat dari pemikiran inilah, aku menulis pokok pemikiran ini. Banyak hal yang aku pikirkan tetapi tak bisa aku sampaikan. Banyak hal yang aku pertanyakan tetapi tak bisa kutemukan jawaban. Bagaimana bisa aku, yang bahkan hidup dan bernafas, bisa mempertanyakan keberadaan Tuhan yang sudah memberikan aku kehidupan? Bagaimana bisa aku menyalahkan Tuhanku ketika aku mendapatkan kemalangan dan berterik “Tuhan itu baik” ketika aku mendapatkan apa yang aku inginkan? Manusia adalah mahluk paling lemah. Manusia adalah seuatu hal yang paling mudah berubah, tidak konstan, dan selalu ingin berubah ubah.

Kehidupan yang sekarang ada terasa begitu hampa dan tidak ada artinya ketika kita sudah berada pada titik jenuh. Kita ingin menghilang barang sehari, tak ada yang tahu siapa kita dan tak ada yang sadar kita selama ini ada. Kita hanya menghilang saja, begitu saja. Apakah semuanya akan menjadi lenih baik? Belum tentu, karena sesuatu yang sudah pasti terjadipun tidak akan bisa dipastikan kalau itu akan seusai pada rencana awal. Kehidupan ini apakah bisa diulang kembali tanpa meninggalkan jejak dikehidupan lama? Bagaimana jika kita memiliki kesempatan untuk mengulang atau menukar kehidupan kita dengan kehidupan yang kita inginkan, tetapi konsekuensinya tidak ada jalan untuk kembali. Sama sekali tidak ada. Apakah kita akan tetap melakukannya?

Bayangkan suatu kejadian dimana kehidupan ini adalah sebuah puzzle. Kita sudah setengah jalan, dan kita baru sadar kalau ada 1 bagian yang salah, dan jika kita perbaiki maka akan banyak bagian lain yang harus ikut kita perbaiki, apakah kita akan memilih untuk tetap memperbaikinya? Atau mencoba untuk melanjutkan dan masa bodoh dengan bagian yang salah itu? Atau bahkan kita akan bongkar seluruh bagian dan mengulang dari awal? Berapa banyak waktu yang akan kita habiskan? Semua jawaban dari pertanyaan ini adalah sebuah keputusan yang hanya  bisa kita ambil 1 kali percobaan, lalu apa yang harus kita lalukan?

Pada suatu masa dalam kehidupan, sekali lagi Tuhan sangat baik, lalu Ia membuatkan persimpangan jalan untuk kita. Tertulis di palang persimpangan, kalau yang kiri kita melanjutkan perjuangan dan yang kanan kita akan terlahir kembali, anggap saja kitta terlahir menjadi sesuatu yang baru, virgin, tak ada celah, benar-benar seseorang yang baru. Dan ini hanya ada 1 kali kesempatan. Kita kita sudah mengambil jalur kanan, di kehidupan itu tidak akan kita temukan lagu persimpangan ini. Lalu apa yang akan terjadi?

Wah persimpangan jalan ini memberikan aku pemikiran kalau kehidupan lama ku sudah memilih untuk mengambil jalur kanan, dan aku marah. Ya aku marah karena semua itu sia-sia. Aku kembali pada kebimbangan. Aku kembali kepada kebuntuan dan berharap jalan kanan itu benaran ada dan kesempatan itu akan kuambil tanpa berpikir dua kali. Lalu kehidupan baruku akan memikirkan hal yang sama dengan yang aku pikirkan sekrang. Wah ini menajdi lingkaran setan yang tidak ada akhirnya. Tidak bisa melanjutkan dan tidak bisa kembali. Stuck.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar