Prolog
Apakah kematian adalah
sutau yang nyata adanya?
Kemana perginya kita
setelah mati? Dan apakah ada rasa sakit setelah kita mengalami kematian?
Banyak orang yang
beranggapan, saat hidup-pun kita bisa merasakan kematian. Mati jiwa. Apakah kita
semua akan bertemu lagi setelah kematian? Atau kematian itu ibarat sebuah game yang
walaupun kamu sudah mencapai level atas, jika game over kamu akan kembali ke
level awal?
Kematian itu adalah misteri,
setidaknya untukku saat ini.
Aku takut saat memikirkan
tentang kematian, tetapi kadang aku berpikir ingin mati saja supaya mengakhiri
sengala kekhawatiranku akan dunia ini. Tapi apakah benar setelah mati, kita
tidak memiliki masalah hidup lagi? Bahkan ada yang bilang masalah hidup bisa
dibawa mati. Aku takut untuk berpikir tentang itu, tapi aku selalu memikirkan
itu sebagai jalan terakhir untuk keluar dari masalahku.
...
Aku sangat gundah saat
ini. Teramat gundah mikirkan jadi apa aku esok? Tapi suatu waktu aku bahagia
dan tidak memikirkan hari esok. Yang aku tau, hari ini akan berakhir, jadi
biarlah berakhir. Senja yang akan menutup lembaran kotor hari ini, dan mentari
datang membawa lembaraan baru. Tapi aku benci saat lembaran baru hari ini
memiliki bekas jiplakan dari lembaran kemarin. Aku benci untuk mengingat hari
kemarin.
Satu hal lagi yang aku
benci. Aku benci saat bertemu dengan orang yang berbicara tentang hari kemarin.
Aku sangat tidak suka dengan hari kemarin, apalagi mengingat masalah kemarin
yang membuat aku menyesal. Tapi aku bodoh. Sudah tau membenci semua itu, tetap
saja kadang aku berpikir tentang hari kemarin, “coba saja aku tidak melakukan
itu, pasti tidak akan berakhir seperti ini” dasar aku orang bodoh. Itu yang
membuat kau benci dengan diri sendiri.
...
Pernah tidak kalian
berpikir kalau kalian itu orang baik?
Munafik jika tidak pernah,
sadar atau tidak, saat kalian tersenyum setelah melakukan sesuatu hal yang baik
bagi kalian, kalian sudah menganggap diri kalian baik. Aku juga benci hal itu. Maaf
banyak hal yang aku benci di dunia ini. Bahkan diriku sendiri.
Sepuluh dari sebelas hal
di dunia ini berisi tentang kebencianku akan dunia. Bahkan aku ga yakin kalau
satu-nya itu adalah hal yang aku suka 100%.
...
Kembali tentang kematian
tersebut. Maaf aku tidak ingin cepat-cepat mati, karena aku gak yakin akan bahagia
setelah mati.
Dulu saat aku kecil, aku
berpikir orang yang sudah mati bisa melihat kita seperti kita menonton televisi.
Tapi apakah bisa menonton seluruh manusia yang hidup? Tidak cukup waktu bukan? Tapi
apakah dalam kematian, waktu masih berlaku? Lalu setelah mati kita kemana lagi?
Hidup kembali? Rumit.
...
Aku tak sabar ingin segera
dewasa. Itu adalah pikiran saat aku kanak-kanak. Aku berpikir menjadi dewasa
berarti aku bisa menentukan pilihanku sendiri. Tapi sekarang aku malah takut
dan terkesan tidak yakin dengan pikiran dan keputusan yang aku ambil. Apakah aku
sudah dewasa? Atau jangan-jangan umurku saja yang semakin tua. Entahlah. Kalian
yang kebetulan membaca ini jangan pernah menganggap ini semua fakta yang bisa
kalian gunakan atau pakai sebagai acuan. Karena kembali lagi aku tak yakin
kalau aku bisa memikirkan semua ini. Bahkan saat menulis atau berpikir tentang
ini, ada suara dalam kepala ku yang berkata lirih, “siapa yang sekarang yang
mempengaruhi pikiran ku?”
...