Selasa, 07 Januari 2020


Prolog

Apakah kematian adalah sutau yang nyata adanya?

Kemana perginya kita setelah mati? Dan apakah ada rasa sakit setelah kita mengalami kematian?

Banyak orang yang beranggapan, saat hidup-pun kita bisa merasakan kematian. Mati jiwa. Apakah kita semua akan bertemu lagi setelah kematian? Atau kematian itu ibarat sebuah game yang walaupun kamu sudah mencapai level atas, jika game over kamu akan kembali ke level awal?

Kematian itu adalah misteri, setidaknya untukku saat ini.
Aku takut saat memikirkan tentang kematian, tetapi kadang aku berpikir ingin mati saja supaya mengakhiri sengala kekhawatiranku akan dunia ini. Tapi apakah benar setelah mati, kita tidak memiliki masalah hidup lagi? Bahkan ada yang bilang masalah hidup bisa dibawa mati. Aku takut untuk berpikir tentang itu, tapi aku selalu memikirkan itu sebagai jalan terakhir untuk keluar dari masalahku.

...

Aku sangat gundah saat ini. Teramat gundah mikirkan jadi apa aku esok? Tapi suatu waktu aku bahagia dan tidak memikirkan hari esok. Yang aku tau, hari ini akan berakhir, jadi biarlah berakhir. Senja yang akan menutup lembaran kotor hari ini, dan mentari datang membawa lembaraan baru. Tapi aku benci saat lembaran baru hari ini memiliki bekas jiplakan dari lembaran kemarin. Aku benci untuk mengingat hari kemarin.

Satu hal lagi yang aku benci. Aku benci saat bertemu dengan orang yang berbicara tentang hari kemarin. Aku sangat tidak suka dengan hari kemarin, apalagi mengingat masalah kemarin yang membuat aku menyesal. Tapi aku bodoh. Sudah tau membenci semua itu, tetap saja kadang aku berpikir tentang hari kemarin, “coba saja aku tidak melakukan itu, pasti tidak akan berakhir seperti ini” dasar aku orang bodoh. Itu yang membuat kau benci dengan diri sendiri.
...
Pernah tidak kalian berpikir kalau kalian itu orang baik?

Munafik jika tidak pernah, sadar atau tidak, saat kalian tersenyum setelah melakukan sesuatu hal yang baik bagi kalian, kalian sudah menganggap diri kalian baik. Aku juga benci hal itu. Maaf banyak hal yang aku benci di dunia ini. Bahkan diriku sendiri.

Sepuluh dari sebelas hal di dunia ini berisi tentang kebencianku akan dunia. Bahkan aku ga yakin kalau satu-nya itu adalah hal yang aku suka 100%.
...
Kembali tentang kematian tersebut. Maaf aku tidak ingin cepat-cepat mati, karena aku gak yakin akan bahagia setelah mati.

Dulu saat aku kecil, aku berpikir orang yang sudah mati bisa melihat kita seperti kita menonton televisi. Tapi apakah bisa menonton seluruh manusia yang hidup? Tidak cukup waktu bukan? Tapi apakah dalam kematian, waktu masih berlaku? Lalu setelah mati kita kemana lagi? Hidup kembali? Rumit.

...

Aku tak sabar ingin segera dewasa. Itu adalah pikiran saat aku kanak-kanak. Aku berpikir menjadi dewasa berarti aku bisa menentukan pilihanku sendiri. Tapi sekarang aku malah takut dan terkesan tidak yakin dengan pikiran dan keputusan yang aku ambil. Apakah aku sudah dewasa? Atau jangan-jangan umurku saja yang semakin tua. Entahlah. Kalian yang kebetulan membaca ini jangan pernah menganggap ini semua fakta yang bisa kalian gunakan atau pakai sebagai acuan. Karena kembali lagi aku tak yakin kalau aku bisa memikirkan semua ini. Bahkan saat menulis atau berpikir tentang ini, ada suara dalam kepala ku yang berkata lirih, “siapa yang sekarang yang mempengaruhi pikiran ku?”
...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar